Istimewanya Peluncuran “Perspektif Bodoh II” Nostress

Perspektif Bodoh II

Peluncuran album ke-2 grup band indie Bali, Nostress, yang digelar di Taman Baca, Kesiman, Denpasar, Jumat (22/8) malam berlangsung sukses. Istimewa. Kiranya tak berlebihan kata itu terucap ketika menyaksikan langsung bagaimana acara yang digelar di tempat terbuka itu berlangsung.

Kenapa istimewa, atau luar biasa? Jika selama ini peluncuran album band indie Bali kebanyakan digelar secara cuma-cuma, atau kalaupun bertiket hanya disaksikan segelintir orang, baru kali ini peluncuran album rekaman band indie Bali menarik minat banyak kalangan, meski untuk menyaksikannya dikenakan tanda masuk Rp 20 ribu, dan sold out.!

Terbukti sekitar 500 penonton memadati tempat acara, dan tentu saja di luar undangan khusus, semuanya “rela” membayar untuk bisa masuk, sebagai bentuk dukungan kepada Nostress. Ramainya mereka yang datang, tak pelak membuat jalan Sedap Malam yang biasanya agak lengang di malam hari, kali ini sempat macet sejenak lantaran banyaknya mobil dan sepeda motor yang terpaksa parkir hingga ke tepi jalan.

Bolehlah Nostress berbangga karena mereka memiliki penggemar, pendukung yang cukup banyak dan nyata. Yang menyaksikan hajatan trio Man Angga (gitar, vokal), Cok Bagus Pemayun (cajoon/harmonika/pianika) dan Guna Warma (gitar, vokal) ini tak hanya penggemar atau pendukung Nostress. Tak sedikit rekan sesama musisi, tokoh seniman dan sastrawan, hadir menyemangati grup yang juga dikenal aktif dalam gerakan sosial menentang rencana reklamasi Teluk Benoa ini. Bahkan yang special, turut bergabung di antara penonton, musisi nasional Sawung Jabo, yang kebetulan tengah berada di Bali, usai tampil di acara Sanur Village Festival.

Seperti biasa gaya khas penampilannya yang “bersahaja” namun tertata rapi dan menghibur pastinya, Nostress memperkenalkan lagu-lagu baru yang ada di album ke-2 mereka, “Perspektif Bodoh II”. Dibuka dengan lagu “Manipulasi Hari” yang juga melibatkan Sanjay “Pygme Marmoset” dan Made Mawut, berlanjut dengan lagu “Taman Saja”. Yang menarik dan tak pelak membuat semua penonton tertawa juga bertepuk tangan ketika Nostress memainkan “Lagu Semut” dengan akapela bernuansa humor, diiringi alunan musik dari “alat musik” yang tak lazim seperti sapu lidi dan botol kaca.

Acara peluncuran sengaja memang tidak digelar tidak besar-besaran, selain mengingat lokasi yang terbatas. Namun justru dari sanalah, dalam suasana santai sembari penonton duduk di rumput, Nostress bisa lebih dekat untuk menjalin suasana keakraban. Tentunya, semua nyaman menonton dan dapat menyimak beragam pesan dan kritik sosial yang disampaikan Nostress melalui lagunya.

source: http://mybalimusic.com/?p=1205