Perspektif Bodoh, Vol. 1

Listen on:

Perspektif Bodoh dari Nosstress

Bayangkan anda terjebak kemacetan saat berkendaraan dan ketika itu matahari berada tepat di atas kepala anda, sudah pasti anda berharap berada di bawah rindangnya pohon. Jam makan siang adalah jam “panas”. Wajah manusia terlihat beringas karena lapar, motor serta mobil semrawut berjejalan memanjang bak ular, dan semuanya serba kesusu pingin cepat sampai tujuan. Biasanya dalam situasi hiruk-pikuk nan sesak tersebut anda merindukan nada-nada sejuk. Lagu-lagu dalam album perdana Nosstress yang bertitelkan “Persepketif Bodoh” ini mampu menjadi “pohon rindang” anda di saat lapar dan panas. Khususnya bagi anda yang jenuh dengan raungan musik distorsi, dan bagi anda yang penat dengan ocehan sumpah serapah maka cobalah sentuh telinga anda dengan alunan nada-nada manis ciptaan tiga anak muda urban di Denpasar ini. Musik mereka jauh dari kesan “angker” musik akustik karena permainan gitar Nosstress tidak menampilkan permainan jari-jari yang ribet saat menggesek dan memetik senar gitar.

Penampilan mereka apa adanya kala pentas semisal baju kaos, celana pendek tanpa aksesoris gemerlap terasa sesuai dengan karya-karya mereka yang juga sederhana. Lagu-lagu mereka cepat “ramah” di telinga karena walaupun nada-nadanya monoton namun tak membuat bosan, apalagi ditambah lirik dalam bahasa awam yang mudah dimengerti. Kalau dicermati, ternyata ada kesan “sepi” dalam lagu-lagu di album ini. Ada sesuatu yang tidak lazim dalam sebuah group band jika kita mendengar karya-karya mereka, sama sekali tak terdengar suara bass guitar. Tiga anak muda ini memang termasuk nekat. Mereka begitu percaya diri merekam lagu-lagu dalam versi asli yang sering mereka mainkan dalam dunia nyata, yaitu dua gitar, satu alat pukul cajoon, dan beberapa alat tiup. Hanya dalam lagu Tak Pernah Terlambat suara Fender Rhodes begitu menonjol ikut menghiasi musik Nosstress dan suara tipis Accordion dalam lagu Bersama Kita. Hasil rekaman album ini jernih sehingga mudah kentara sisi “sepi” itu. Namun kesan “sepi” itu tidak terkesan canggung, justru menjadi keunikan tersendiri. Kosongnya dentuman suara bass guitar tak membuat lagu-lagu mereka rancu dan mereka berhasil membuat sisi “sepi” itu bukan sebuah masalah besar di telinga.

Tidak hadirnya suara bass adalah kesengajaan begitu kata Angga, sang gitaris dan sekaligus vokalis ini. Nosstress terlahir dari arena nongkrong di mana bass guitar jarang hadir sebagai instrument untuk berdendang kala teman bercakap-cakap selagi menunggu giliran sloki. Seringkali suara Harmonika Cok ikut meramaikan arena, dia sigap karena harmonica selalu berada dalam kantong celana pria yang berposisi sebagai peniup dan penabuh di band ini. Suasana cakap-cakap akan mendadak tenang saat suara Kupit ikut berdendang. Pemandangan konser dadakan di ruang nongkrong sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang mengenal mereka dengan akrab. Dari awal terbentuk mereka tidak menyukai instrument yang ribet-ribet. Digunakannya Cajoon daripada drum karena alasannya praktis, bisa digendong kemana-mana dalam tas ransel. Saat mereka latihan sama sekali tidak menggunakan sound speaker, dan tempat meracik nada-nada bukan di ruang kedap ber AC dengan instrument komplit. Kamar tidur, halaman rumah atau ruang tamu para personil dijadikan tempat menempa kesaktian. Kebiasaan mereka menyiasati situasi inilah yang membuahkan karya-karya dalam album perdana ini.

Tidak terbersit kata “bodoh” kepada mereka yang cerdas menyiasati situasi ini, tetapi mengapa “Perspektif Bodoh” dijadikan title album mereka? Bagi Nosstress kata “Bodoh” sering ditujukan kepada manusia yang dianggap remeh. Cara pandang manusia remeh ini diandaikan nyeleneh, kuno, terbelakang, bahkan biadab bagi mereka yang bergelimang kemapanan. Manusia remeh sering tidak disertakan dalam penentuan keputusan, acap kali tak dilibatkan karena diandaikan useless. Mereka manusia remeh ini sengaja dipinggirkan karena apa yang mereka buat kurang canggih, murahan, dan terlalu simple. Nosstress berusaha memberikan pandangan bahwa penting belajar dari “perspektif bodoh” karena kaum yang diremehkan pintar menyiasati sesuatu sebab mereka tidak harus mewah untuk bahagia, tidak harus meriah untuk tertawa, tidak harus rakus untuk mulus. Kita bisa bahagia dengan menyiasati apa yang ada dan dengan cara sederhana tanpa harus terobsesi dengan kekuasaan yang mendewakan segala sesuatu serba besar. Kebiasan tiga anak muda ini mengolah kesaktian tanpa listrik saat latihan, atau saat berdendang di arena nongkrong mampu melahirkan kecanggihan berdendang secara “alami”. Tentu kepiawaian mengolah tubuh untuk menciptakan suara-suara merdu ini terlahir dari kerja keras, sebab tak dimanjakan oleh mesin-mesin yang seringkali membuat kita meremehkan kualitas tubuh kita sendiri. Album ini merupakan cerminan sejarah Nosstress dalam menyelami makna “perspektif bodoh” yang memberikan mereka nafas untuk berkreativitas.

Nosstress hidup di saat ngadatnya roda reformasi dan tak jelas roda itu berputar ke arah mana sampai saat ini. Negara terasa gagal menjalankan fungsinya sebagai pengayom masyarakat terlihat dari maraknya kasus korupsi, masih tidak becusnya system pendidikan dan kesehatan serta harga-harga yang terus membumbung tinggi. Dalam kondisi seperti ini masyarakat bosan berharap kepada negara. Rakyat merasa percuma menggantungkan diri terhadap manusia-manusia rakus yang berada di parlemen. Dampak dari kesemrawutan ini menimbulkan sebuah pandangan bahwa hanya kepada diri kita sendiri saja kita bisa bertumpu. Maraknya lirik-lirik lagu bertemakan motivasi diri yang disuguhkan oleh musisi-musisi nasional maupun lokal sepertinya adalah cermin kemuakan terhadap system. Tidak ada negara, yang ada hanya diri kita sendiri. Sebagian besar tema-tema lagu Nosstress mewakili hal itu, sangat positive dan penuh semangat untuk tetap berjuang menghadapi hidup. Seperti dalam reff lagu Tak Pernah Terlambat dalam album ini “Tak pernah terlambat jika kau ingin berubah, hanya dirimulah yang menghambat segalanya” atau dalam lagu Bersama Kita “Semua cerita dalam setiap hidup takkan selamanya indah, takkan selamanya buruk, coba selalu hadapi”, lirik-lirik ini ibaratnya pemandu sorak kepada manusia yang berjuang untuk survive di saat ketidakpedulian antar sesama semakin terasa.

Sampul album ini berwarna dominan putih, terpampang ilustrasi seorang bersender santai di kursi sambil memegang secangkir kopi. Visual apik yang dibuat Wiss menggambarkan betapa tenangnya moment minum kopi itu, apalagi wajah “smiley face” menempel pada kepala sosok itu menyiratkan kepuasan atau kegembiraan. Sepertinya untuk bahagia tidak harus rakus, secukupnya saja seperti minum secangkir kopi di pagi hari, tidak perlu banyak karena buat kepala bisa tegang. Persoalannya ukuran cukup tidak ada yang tahu, mungkin “Perspektif Bodoh” bisa menjawabnya atau justru menambah masalah karena bagi beberapa orang hasrat rakus justru dipelihara karena penting bagi kekuasaan mereka…Mari bersulang untuk Nosstress. (GdePutra)

Play Video